Friday, 1 July 2011

Hidup bermasyarakat

Dulu, ketika masih di sekolah dasar, guru seringkali mengajarkan agar kita selalu hidup bermasyarakat, mengenal tetangga sebelah rumah, mengenal tetangga di gang atau kampung sebelah, bahkan kalau bisa mengenal orang-orang satu desa, satu kecamatan, mengenal teman kita satu kelas, satu sekolah. Beliau juga menerangkan tujuannya agar kita bisa saling bantu, saling tolong menolong jika terjadi kebakaran, kebanjiran, atau kesusahan hidup lainnya.

Oleh sebab itu hampir sebagian masyarakat berpendapat, tujuan hidup bermasyarakat : agar kita bisa saling tolong-menolong.

Pemahaman seperti itu sudah begitu mendarah-daging dalam perikehidupan dan kultur masayarakat kita. Mungkin masyarakat Modern (baca:Barat) yang nota-bene individualistis, agak sedikit asing dengan kultur tersebut apalagi yang berprinsip bahwa kitalah yang menentukan hitam-putihnya warna hidup kita, hanya kitalah yang bisa menolong diri kita sendiri. Dan alhasil hanya dikotomi itu yang ada dalam alternatif kita.

Mungkin alasan kita tidak salah dan itu cukup baik, dan sama sekali tidak jelek. Akan tetapi seringkali kita melontarkan perkataan seperti ini ;

“Ih.. sebel aku sama Ibu Anu, hampir tiap hari Dia minta bumbu dapur, minta bawang putih, garam, cabe, bahkan kadang-kadang malah pinjam tabung gas, kalau kebetulan lagi masak gasnya habis, tapi kemarin, saya pinjam mixer aja nggak di kasih, alasan rusak lah… sebel aku ..! pokoknya kalau besok dia minta apa-apa lagi saya bilang nggak ada…!!”

“Wah..! Aku dulu sering lho.. membantu sewaktu dia dalam kesusahan, tapi giliran aku yang minta tolong, dia malah pergi, Menyesal aku jadinya…”

“Dulu kamu sewaktu belum kerja minta tolong sama saya, tapi setelah kamu masuk diangkat kerja disini, jangankan sekarang membantu saya yang sedang dalam kesulitan, kok ini malah membantu SPSI untuk menuntut saya mundur….”

Masih banyak gerutuan lain seperti itu yang sering kita dengar, bahkan mungkin kita lontarkan. Inikah efek jelek dari kultur tolong-menolong..?

Ada satu ajaran yang rasanya cukup baik dijadikan alternatif, misalnya saja : tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah. Atau suatu ajaran sufi : pada tahap awal kesufian untuk membersihkan dirinya, para calon sufi itu lebih mementingkan diri untuk tidak berbuat jahat (dosa) daripada harus berbuat baik, yang bisa dikembangkan menjadi : lebih baik tidak meminta daripada harus memberi.

Jadi, bagaimana kalau kita ubah saja tujuan kita hidup bermasyarakat..? bukan lagi untuk bisa saling tolong menolong, tapi kita hidup bermasyarakat agar kita bisa menolong orang lain…!! Titik..!!. Lalu apakah hanya orang kaya yang bisa hidup bermasyarakat..? sebab hanya dia khan yang bisa menolong…?. Ingat perkataan Ir. Sukarno (yg saya kutip dari tulisan seseorang di Jawa Pos) : “ Sekuat-kuatnya seseorang suatu saat butuh pertolongan, dan selemah-lemahnya seseorang suatu saat dia bisa menolong orang”

Mudah-mudahan saja dengan motif bermasyarakat seperti itu akan dapat memperbaiki dan menyegarkan serta menghidupkan kembali struktur kehidupan masyarakat kita yang lebih dinamis, bersih, dan tidak anarki seperti sekarang ini.

Atau bahkan mungkin malah tidak akan ada lagi rakyat kita yang hidup bermasyarakat lagi..? kalau saja itu terjadi maka bencana buat negara kita..! sebab hal itu dapat dijadikan barometer bahwa : “Ternyata masyarakat kita sebenarnya tidak pernah ikhlas membantu sesamanya…!!” Hanya tuhan yang tahu………

No comments:

Post a Comment

Followers